“Dia, gadis manis itu”

6 bulan…heheheh sepertinya sudah sangat lama sejak postingan terakhir saya. Kali ini saya kembali ingin bercerita tentang seorang gadis kecil manis. Mungkin saja dapat membuat kita sedikit menyunggingkan senyuman untuknya.

Namanya winda, nama yang manis. Semanis senyuman dan warna kulitnya yang hitam manis. 2tahun lalu, dia pernah dan sangat dekat denganku. Anak manis yang cerewet, banyak nanya, banyak cerita, yahh santapanku untuk bercanda, kadang menjailinya pura2 ga dengar dia, pura2 ga setuju dengan omongannya. Aahhhh senang rasanya, lucu malah, jika melihat dia ngambek. Makin manis.

yang namanya anak manis, mau ngambek, nangis, ngomel, pasti tetap manis, apalagi klo udah senyum, uuuhhhh makin menarik u/menjahilinya😊

winda. Selain manis, dia juga anak yang pintar. Dia rajin, saat diminta tolongin. Suaranya yang cempreng, menjadi khasnya dia.

Pernah, suatu ketika saat saya lagi ga enak badan, dia dengan pekanya, menenangkan suasana yang lagi bising dengan suara cemprengnya. Terharu rasanya, tapi lucu juga sih, ehh campur kesel juga, karena suaranya, kepala jadi makin puyeng heheheh.

Tiba disaat saya harus resign, winda adalah salah satu siswa yang harus ku buat menangis dengan keputusanku.

yah, benar sekali. Dia adalah siswa saya di sekolah sebelumnya. Harusnya, tahun ini dia belajar di kelas 8, tapi dia tak dapat melawan takdir.

Sebenarnya, saat resign ngajar waktu itu, saya tidak memberitahu para siswa. Saya hanya mengajak mereka foto rombongan untuk yang terakhir kali. Beberapa guru tahu maksudku itu. Tapi, saya sudah pesan ke mereka semua agar tidak memberitahu anak-anak soal ini.

saya hanya tidak mau, melihat mereka sedih. tanpa ku beritahu sekalipun, saya yakin mereka pasti akan nangis saat tahu hal itu.

Saat saya tak lagi masuk ngajar, satu persatu siswa2 saya mulai menelpon, sms, kirim pesan lewat fb, instagram, bahkan ngirim pesan kangen ke guru yang lain u/disampaikan ke saya. Saya ingat tentang perkataan pamanku dulu. Dia pun seorang guru, SMP tapi.

“klo kamu mau lihat apakah orang2 menyayangi kamu atau tidak, maka cobalah tinggalkan mereka. Yang menahanmu pergi, Ada 2, mereka benar2 menyayangimu, atau hanya berpura2 karena ingin di puji kesetiaannya. Tapi, dia yang diam dan terisak tanpa kata, lihat dalam matanya, begitulah caranya menahanmu”

Namun sungguh, keputusanku untuk resign ini, bukan untuk membuktikan perkataan pamanku itu. Lebih dari apapun, saya telah pernah merasakan sakit yang teramat dalam saat ditinggal oleh seseorang yang begitu dekat dan begitu berharga bagiku. Dan saya tidak mau, membuat orang lain merasakan sakitnya ditinggal, karna saya pun tahu rasanya, “GA ENAK“. dan tanpa cara itu, saya sudah tau mereka tidak akan rela jika saya resign. Dan yah, begitulah kebenarannya.

Winda, anak manis yang hampir tiap hari mengirimkan sms kepadaku, dengan kalimat sama “ibu, kangen ka (ibu, saya kangen)” yah sesingkat itu pesan yang selalu ia kirimkan kepadamu. Singkat, tapi begitu bermakna.

Hingga suatu hari ku putuskan kembali ke sekolah untuk berpamitan dengan siswa2ku. Kucari sesuatu yang dapat kujadikan alasan untuk kembali ke sekolah itu. Berharap kutemukan buku sekolah yang belum kukembalikan,tapi tak ada. Absen kelas, nilai siswa, atau barang teman, tapi tidak ada. Hingga akhirnya kugeledah tas-tas yang pernah ku pakai ke sekolah. Dan Tuhan masih mengisinkan saya ke sekolah itu, kutemukan lambang sekolah yang masih ada banyak sisa, & tertinggal dalam tasku.

Hari disaat kepsek tak lagi ditempat, itulah saat terbaikku untuk berkunjung. “Jangan tanya kenapa, alasannya sangat banyak“. Dari rumah, saya terus komunikasi dengan teman guru disana, yang memberi info kalau kepsek sedang meninggalkan tempatnya. Bergegaslah saya ke sekolah. Masuk gerbang dan memarkirkan motor. Anak-anak kelas 4&5 yang kelasnya berdekatan dengan parkiran, pada ngintip dijendela samping kelasnya

“Ibuuuuuu….”
“Bu endang…bu endang….adai bu endang…”
“Ibu endaaaaaang….”
“Adai bu endang…” (Ada bu endang / bu endang datang)

Gemuruh teriakan itu sangat jelas ditelingaku. Terharu….senang rasanya, mendengar teriakan kegembiraan mereka saat melihat kedatanganku. Perlahan kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga dengan jinjingan sebuah kantongan yang berisi alasanku untuk berkunjung di tempat ini. Ruang kelas 6 berada sebelum ruang guru, yang berjejer mulai dari kelas empat. Jantungku berdegup kencang, senyumanku makin lebar, rasa senang dalam hatiku seakan ingin membuatku melayang mendekat kearah anak-anak yang kulihat berlarian. Yah, mereka berlari kearahku. Belum juga melewati pintu masuk kelas 4, siswa2ku (kelas6) sudah tiba tepat didepan mataku, dan tanpa dapat menahannya, mereka memelukku erat dari segala arah. Hampir terjatuh saya, dibuatnya. Sedikit mengusap air disudut mataku, kubalas pelukan mereka.

“Apalagi yang lebih membahagiakan saat tahu, rindumu pun terbalaskan? Saat tahu yang kau rindu, pun merinduimu?apalagi?apalagi? Ga ada.”

Mereka menangis, terisak. Mengeluarkan segala rindu yang ada di dalam dada, melepaskannya agar tak lagi menyiksa kebahagiaan dari pertemuan. walaupun ini pertemuan yang singkat. Winda mana?
Pun dengannya, terisak sejadijadinya bersama seorang siswa lainnya, yang membuatku harus berlama-lama membujuknya….

Ada banyak hal tentangnya, yang masih sangat melekat dalam ingatku. Suatu waktu saat jam istirahat, entah sedang membicarakan apa. tiba-tiba dia menyahut “Ibu, kalau menikahki nanti undangka juga nah bu. janganki lupaka” (ibu, nanti kalau ibu menikah undang saya juga, jangan lupain saya yah bu).yang namanya anak-anak gitu yah, klo ngomong tuh yah langsung nyablak aja. Ngundang pembicaraan jadi panjang gitu, soalnya temannya pada ikutan nimbrung sama pembahasannyaπŸ™ˆ.

Pertemuan terakhir dengan winda & teman2nya sekitar 2 tahun lalu, saat mereka maksaaaa banget untuk bertemu, dan ternyata mereka surprise-in dengan memberikan hadiah boneka doraemon yang lumayan gede, dan ini salah satu janji winda saat saya masih mengajar dulu. Dia sangat ingin menghadiahkanku boneka doraemon kesukaanku. Dan saat itulah dia memenuhinya.

Tapi….sungguh sayang, dipertemuan terakhir itu kami sempat merencanakan sesuatu untuk membuat acara makan-makan, namun hingga saat dia menutup mata untuk selama-lamanya, rencana itu hanyalah tinggal rencana. Itulah takdir, tak ada yang tahu, pertemuan mana yang menjadi saat terakhirmu, senyuman mana yang menjadi senyuman terakhirmu, dan kebahagiaan mana yang menjadi bahagia terakhirmu.

sayang maaf, ibu ga sempat melayat. Ibu lagi jauh. Tapi doaku pasti untukmu, untuk kedamaiannmu di akhirat, anak manis. Maaf juga sayang, saat tadi buka fb mencari kabar tentangmu, saya baru lihat, beberapa waktu yang lalu, ternyata kamu mengirimkan permintaan pertemanan, dan saya baru membukanya tadi. Maaf sayang, maaf…semoga kamu ditempatkan di surgaNya…aamiin..

Winda Adriani
Winda Adriani
Iklan

My Job My Adventure

Hampir setahun saya melepas status sebagai guru honorer disalah satu sekolah dasar negeri. Rasanya kangen juga dengan bocah-bocah yang selalu buat kesal tpi ajaibnya, pun selalu buat senang.

Kangen banget dengan tingkah-tingkah aneh bin lucunya mereka☺

“Begitulah yang namany rindu, tidak tau diri. Datang tak diundang, pulang tak diantar πŸ™ŠπŸ™Šeehhhh maksudnya hilang tanpa terasaπŸ˜…”

Hampir tiga jam, saya berbincang dengan kawan yang lama tak mampir ke rumah. Walaupun kami beda profesi, tapi tetap bisa nyambung klo masalah berbagi cerita soal kerjaan masing-masing.

Saya dengan latar belakang guru, sedang ia bekerja disebuah kantor ternama.

Seperti biasanya, dia membahas mengenai pekerjaannya, bagaimana ia melayani klien yang sudah berusia; tangannya gemetaran saat tandatangan, tak luput juga ia bercerita mengenai jumlah-jumlah pendapatan penghasilan sang klien, dan tentunya membahas posisi & pekerjaannya di kantor tempat ia bekerja.

Aaaahhhh ngilerrr, iriiii, pengeeennn juga seperti dia😫😫. Pengen kerja di kantoran, kerja bareng laptop, dengan sekumpulan notes berwarna warni yang tertempel didinding pembatas meja kerja.Dan disana pula kan kutempelkan gambarmu sebagai penyemangatku πŸ™ŠπŸ˜… (mau nempelin gambar siapa Bu??emang ada yah??πŸ˜†πŸ˜‚). Sibuk ngurus map-map yang nantinya akan berubah menjadi dollarπŸ˜‹. Punya bos keren, kece, baik hati, & single, yang selalu jadi bahan perbincangan dengan teman sejawat, menjadi moodbooster ditengah kebisingan rapat kerja yang membosankan. Yeaaahhh sepertinya hidup akan menyenangkan πŸ˜„

“Keinginan besarku untuk kerja kantoran pupus sudah, seiring dengan dua ijazah keguruan yang berada di tangan”

Saya tidak pernah menyangka, bahwa saya akan bisa berdamai bersama bocah-bocah. Bukan sembarang bocah. Bocah yang ingusanlah; yang ingusnya nyebar hingga keseluruh permukaan wajah, jadi masker alamiπŸ˜‚ abis itu salaman ama guru, bocah yang klo pengen pipis ato pup, harus dianterin, ditemanenin, dijagain dan di titik-titik (isi sendiri lah, kira2 apa lagi?πŸ˜†), bocah yang suka nangis dan berantem gaje lah. aaaahhhhh pikiranku sering dirasuki bayangan-bayangan horror yang sangat ga jelas, dan ngada-ngada.

Beruntungnya, pengalaman pertama ngajar, dapat siswa yang baik-baik, kalem kayak palem, manis kayak si manis (jembatan ancol)πŸ˜†, dan syukurnya semua sehat walafiat, ga ada yang ingusanπŸ˜‚πŸ˜‰.

“Anti banget yah, ma siswa ingusan?” Ga anti juga sih, bukan apanya loh bray, sist. Kalian tau sendiri kan, anak esde tuh kayak gimana? Yang klo lagi ingusan, mereka pake tissue ga? Abis megang ingusnya, mereka cuci tangan ga? Boro-boro cuci tangan sebelum salaman ma gurunya, untuk mereka makan aja, udah rempong banget nyuci tangannya hahhaahah πŸ˜‚πŸ˜‚ (tapi ga semua juga yah). Asal tuh makanan ga dicelupin dulu ditempat yg ada caramel berwarna putih agak kekuningannya. Dan jangan Sampe pula, makanan yang udah masuk mulut, ikut menyatu ama panjangnya angka 11 (dari atas mulut) yang dengan kecepatan full, ikut menerobos masuk ke mulut..eeewww πŸ˜‚πŸ˜°πŸ˜°

Menurut cermatku, menjadi guru berarti perlahan namun pasti, disadari atau tidak, kita pun telah menjadi psikolog anak. “Kok psikolog?” Yah iya, guru tuh paling bisa & paling tau dengan karakter- karakter anak yang berbeda, dan pastinya, setidaknyalah, tau cara mengatasinya. Klo ga tau, berarti kelasnya pasti selalu bising.

Saya membuktikannya sendiri. Seorang Endang, yang anti anak kecil, pada akhirnya bisa merindukan mereka 😊. “Kok bisa sih?” Yang jelas, alasannya bukan “terpaksa“, karena keterlanjuran ijazah yah.

“Saya selalu percaya, bahwa apapun yang kita jalani dalam hidup ini, semuanya adalah skenario, semuanya telah tersusun rapi dalam buku kehidupan kita, dan Tuhan, satu-satunya penulis yang mempunyai kebenaran hakiki untuk semua karyanya. Mau apapun kita, mau seperti apapun kita, jika Tuhan tidak menghendaki, maka itu tidak akan terjadi, bahkan selangkah lagi pun pencapaian itu, jika itu bukan skenario kita, maka percayalah, itu pasti tak akan terjadi. Dan yang kita jalani, itulah yang terbaik untuk hidup kita. Hanya saja, terkadang kita yang tidak tau diri, yang malas mencari dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup ini”.

Alasan kenapa saya bisa menerima, dan menjalani, yang pada akhirnya saya saaaaangat menyenangi profesi saya sekarang karena PERTAMA, saya menjalaninya dengan ikhlas (insya Allah), KEDUA, pekerjaanku ini saya jadikan sebagai teka-teki menantang yang harus saya selesai dengan baikπŸ˜‰(itu Karena saya senang dengan tantangan, senang dengan tempat/sikon baru), KETIGA, untuk siswa yang memiliki karakter yang bermacam-macam, saya tidak perlu mengumpulkan tenaga besar untuk selalu siap memarahi mereka disaat membandel. Tapi saya hanya perlu menjadi teman, bahkan sahabat bagi mereka & tentunya bagi diriku sendiri.

Saya berdamai, memahami dan memaknai setiap peran yang kujalani pada setiap lembaran skenarioku.πŸ˜‰πŸ‘

Menjadi seorang guru bukan pekerjaan yang mudah. Bukan sekadar datang ke sekolah, duduk di kursi guru bagian depan, menyuruh siswa membuka buku dan mengerjakan soal-soal, lalu selesai. Tidak. Tidak semudah itu.

Sebelum mengajar, guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran. Guru harus mempelajari kurikulum, lalu ada Prota, Promes, Silabus, RPP, Jurnal, buku nilai, daftar hadir, dan buku tamu (masih ada yang kurang? Tambahin di kolom komentar yahπŸ˜…). Belum lagi harus mempersiapkan buku siswa yang paling tepat untuk kemampuan siswa pada umumnya yang ada di kelas, memikirkan media pembelajaran yang menyenangkan untuk menarik perhatian siswa, memikirkan cara agar siswa tetap tenang & nyaman mengikuti proses pembelajaran. Membuat mereka dapat duduk ditempatnya masing-masing aja, udah syukur, apalagi bisa membuat mereka tenang, mengerjakan tugas dengan baik, ditanya dapat menjawab, mentoknya dapat nilai bagus 😁😊.

Memang menarik dan tentunya sangat menantang menjadi seorang pengajar.Di lain waktu saya akan menceritakan hal yang tak kalah serunya, hal yang paling menyenangkan, hingga hal yang menyedihkan menjadi pengajar.

Untuk Kali ini, cukup sampai disini yah. Ada, diantara kalian yang awalnya kurang senang dengan profesinya yang sekarang, tapi akhirnya ga rela ninggalin? Share di kolom komentar yahπŸ˜‰

Menjadi seorang guru, jangan terpaku pada nilai. Jika siswamu belum bisa memperoleh nilai tinggi, galilah kemampuannya (baca: bakat) yang lain. Namun jika belum bisa juga, maka ajarkan ia akhlak yang baik. Kelak mereka akan mengingatmu sebagai guru kehidupannya, bukan guru pemberi nilai palsu. Jika nilainya yang jelek belum bisa kau ubah, setidaknya kau bisa sedikit mengubah sikap&sifat nya menjadi lebih baik.

Dibalik Dinding Kaca

Beberapa kali aku ke kedai ini. Entah hanya sekadar numpang WiFi, atau memang karena lagi pengen jajan saja. Makanan yang mereka sajikan aku suka. Makanannya enak, tampilannya pun unik. Beberapa hanya makanan tradisional yang tampilannya diubah menjadi makanan kids jaman now. Tempatnya pun nyaman. Terlebih lagi jika hujan turun, aku lebih senang menikmatinya di kedai ini.

Aku sebut saja kedai sudut. Karena tempatnya yang memang tepat berada disudut jalan, dan dindingnya yang terbuat dari kaca, membuat pengunjungnya dapat menikmati pemandangan jalan dari setiap arah.

Saat itu aku melihat Risa. Ia berdiri ditepi jalan tepat di depan kedai. Ia membawa tote bag. Rambutnya yang sebahu, dengan jepitan di samping telinga, & kacamata bergagang pink, selalu jadi ciri khasnya. Sejak dulu, hingga sekarang. Sejak beberapa tahun silam, saat pertama kali aku mengenalnya.

Risa bukan teman sekolahku. Bukan teman sepermainanku. Terlebih lagi, bukan teman ngobrolku. Aku mengenalnya karena musibah yang menimpah dirinya.

Saat itu, beritanya terpampang jelas di halaman depan Koran harian. Terlebih lagi, ia tinggal bersebelahan rumah dengan bibiku. Aku tahu banyak tentangnya.

“Ini tentang ia dan kekasihnya yang telah tiada”.

Senja itu, mungkin telah menjadi senja terkelam baginya. Saat ia sedang bersepada santai, kekasihnya datang dengan menggunakan sepeda motor dan memperlambat laju kendaraannya tepat disamping Risa.

Hal ini sering terjadi, hampir disetiap sore sesaat sebelum Risa kembali ke rmh, setelah berolahraga. Ia kadang kesal dengan kekasihnya yang malas olahraga, namun tahu betul jam pulang Risa. Tetapi, kemarahannya selalu saja dapat diatasi oleh kekasihnya dengan berbagai bujukan romantis. Hal inilah yang membuat hubungannya awet hingga 7tahun.

Jalan yang dilalui Risa terbilang sangat lengang, bahkan terkadang tak terlihat kendaraan yang melintas, selain orang-orang yang tengah bersepeda jika senja tiba.

Namun sayang, senja itu harus berakhir duka. Dari arah berlawanan, terlihat sebuah Mobil yang melaju tanpa kendali. Terlihat oleng, & sangat kencang. Mungkin saja sopirnya tengah tak sadar diri. Mungkin saja sang Sopir tengah mabuk berat.

Risa sempat terkejut & meneriaki kekasihnya agar segera meminggirkan kendaraannya. Namun terlambat.

Mobil itu semakin mendekat ke arah mereka. Kekasihnya menoleh melihatnya, lalu menendang sepeda yang ia kendarai. Hingga akhirnya Risa terjatuh diatas rerumputan, diluar badan jalan. Bersamaan saat Risa terjatuh, terdengar pula suara benturan yang sangat keras.

Yah, Mobil itu menabrak sepeda motor kekasihnya yang menyebabkan kekasihnya terpental jauh dari kendaraannya. Risa melihat betul kejadian itu, ia histeris. Teriak sekencang-kencangnya. Sementara Mobil yang menabrak, hilang entah kemana.

Tak cukup dua jam di rumah sakit, kekasihnya menghembuskan nafas terakhir. Ia tak dapat tertolong lagi.

Sejak kejadian yang menimpanya, ia tak lagi pernah berkendara seorang diri. Bahkan ia berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup. Entah bagaimana keadaan hatinya saat ini, setelah 5tahun berlalu. Yang ku dengar, adiknya sebentar lagi akan menikah, melangkahinya. Sedang ia, selalu menghabiskan waktunya seharian dengan kerja di kantor.

Senyumnya masih sama. Namun tatapannya, terlihat telah jauh berbeda. Hanya penampilannya yang tak banyak berubah. Namun sikap yang dingin dan raut wajahnya yang terlihat ceria, selalu menjadi hal yang sangat kontras dimata orang-orang. Semoga saja, ia telah berdamai bersama nasibnya.

Aku kembali menikmati minuman dan camilan yang ada diatas meja. Sedang Risa telah berlalu, dengan kendaraan umum yang ia tumpangi“.

Untuk hidup yang Indah ini, Kesenangan bukan dari apa yang kita inginkan Tapi apa yang kita dapatkan. Kebanggaan bukan dari apa yang telah kita peroleh Tapi apa yang telah kita usahakan. Kegagalan bukan sesuatu yang tak pernah terwujud Tapi apa yang tak pernah kita pikirkan πŸ˜‰ . “endang.bintang”

Life must go on

5 Januari 2018

Taburan Bunga Api

Saya ingat betul, 3 tahun lalu, saat pergantian tahun 2014 menuju 2015. Saat itu kami berada di kelas perawatan lantai dua. Didalam satu ruangan terdapat tiga pasien, ranjang satunya lagi masih kosong

Ahhh aku benci dengan ketidakadilan di negeriku ini. Status mama yang saat itu PNS dengan golongan yang setara dengan Jen…ttiiiiiiittt, gaji tiap bulan terpotong u/pembayaran asuransi kesehatan, harus menempati ruang perawatan semacam itu. Yang seharusnya, kami menempati ruang perawatan yang didalamnya hanya ada satu pasien, ato paling mentok dua pasien saja. Benci, kesal, sudah pasti. Karena alasan kelas perawatan yang dimaksud lagi full, maka demi kelancaran pengobatan, akhirnya kami pasrahkan saja. Lagian, perawat jaga pun membiarkan kami menjaga mama lebih dari 2 orang (sesuai peraturan RS, pasien hanya boleh ditemani oleh 2 orang keluarga saja namun kami bahkan boleh menjaga mama sampai 7orang)

Senja itu terlihat cukup terang. Tak lebih dari 5 menit aku keluar ke balkon melihat langit diakhir tahun. Setelah itu, aku kembali ke tempat mama.

Jika senja telah tiba, maka ruang perawatan terlihat lebih lengang. Begitu selesai shalat magrib, para penjenguk mulai berdatangan lagi. Dan yah, bisa ditebak. Penjenguk mama lah yang setiap hari, hari waktu, selalu memenuhi ruang perawatan. Beruntung kedua pasien tidak pernah mengeluhkan hal tersebut.

Malam itu, aku menuntun mama untuk menunaikan shalat magrib. Saat itu, keadaan mama semakin drop, mama hanya bisa bertayammum. Dan shalat dalam keadaan berbaring πŸ˜₯. Karena sikon yang tidak memungkinkan, mama pun tak dapat lagi shalat menghadap kiblat. Air mataku menetes, setiap kali melihat Mama yang semakin lemah. Terlebih lagi, rasa sakit yang kurasakan di Dada, bagaikan bom atom yang diledakkan berulang, setiap kali harus manuntun mama bertayammum & shalat.

Dulu mama tidak selemah ini. Bahkan untuk mamalingkan badan menghadap kiblat pun, kini mama tak bisa lakukan lagi.

Malam itu tak banyak yang datang menjenguk. Mungkin sebagian sedang mempersiapkan acara di malam tahun baru. Mungkin pula tak datang karena kemacetan dimalam tahun baru, sudah menjadi ritual jalanan Ibu kota. Tapi tak apalah, biar mama bisa istirahat lebih banyak lagi.

Setelah ba’dah magrib, petasan dan kembang api mulai terdengar dimana-mana. Langit malam itu, tak dapat kunikmati seperti malam pergantian tahun sebelumnya. Kala itu, tak ada satu pun yang dapat mengubah hari menjadi lebih indah, sebelum mama kembali pulih.

Makin malam, suara kembang api dan petasan terdengar makin dekat. Belum pukul 22.00 mama sudah tidur. Dan kekhawatiranku pun terjadi. Mama terbangun Karena kaget. Suara petasan terdengar semakin banyak, semakin dekat, dan semakin besar.

perlahan ku melangkah menuju tepat disamping mama, dengan lembut aku membelai rambutnya, seperti yang selalu ia lakukan selama ini kepadaku, setiap kali menenangkanku. Dan tangan satuku menggenggam erat tangannya. Aku membungkukkan badan, dan berbisik kepada mama.

“Mama jangan kaget yah, itu hanya suara petasan dan kembang api, malam ini malam pergantian tahun”

Dengan suaraku yang sesak, dan tangisku yang ku tahan, aku mencoba menenangkan mama. Tak tega rasanya membisikkan hal semacam itu kepada mama. Yang biasanya, ia bisa tahu dengan sendiri. namun saat itu, semuanya berubah…sambil berbisik, aku merasakan tangan mama menggenggam tanganku begitu eratnya. Namun tetap ku kuatkan diri untuk menenangkan mama.

“Ma, besok sudah tahun 2015. Mama jangan kaget kalau ada suara petasan lagi yah. Mama cepat sembuh, supaya kita bisa liat kembang api di depan rumah, di kampung lagi yah”

Di kalimat terakhirku, aku benar-benar tak dapat lagi menahan emosi. Air mataku tumpah. Tante yang melihatku saat itu, memberi isyarat kepadaku agar tidak menangis di depan mama. Namun aku tahu, mama tidak melihatku. Matanya hanya tertutup. Sementara dahinya mengerut. Dan dengan nafas yang berat, terdengar ngos-ngosan, mama berusaha menjawabku, namun tak berhasil. Hanya sepatah kata saja yang mampu ia ucapkan sebagai isyarat ia mengerti akan apa yang aku ucapkan.

“Ohhhh..heemm heemm” dengan suara yang amat kecil, dan terdengar berat mama menjawabku.

Setelah yakin mama telah kembali tertidur, aku menuju balkon, menumpahkan segala air mataku. Aku tak tahu , dengan Cara apa lagi yang harus kami lakukan agar mama segera sembuh. Aku hanya duduk tertunduk, terus menangis, sementara tanteku, berusaha untuk menguatkan aku. Namun semuanya gagal. Malam itu ku tutup tahun 2014 dengan segala doa-doaku agar tak lagi pernah terulang semua kejadian ini, setelah mama sehat nanti. Tasbihku ku perbanyak, zikirku ku perpanjang, namun tangisku tetap tak dapat ku kendalikan, diakhir tahun yang tak pernah ada senyuman.

Dan semua itu mengajarkanku, dibalik keindahan taburan bunga api, entah di bagian bumi mana, terdapat insan yang tengah meratap & memohon keajaiaban-keajaban saat itu juga.

Yang Terburuk Yang Tertinggal, Yang Terindah Yang Terkenang

2017 akan segera berakhir. Hanya hitungan jam lagi, maka lembaran baru untuk menyambut tahun baru, akan segera tertempel pada dinding kamar, menggantikan lembaran sebelumnya.

Yupzz…betul sekali. Lembaran baru, resolusi baru. Di tahun baru. Mengharap semuanya lebih Indah, lebih baik, dari tahun sebelumnya.

ya iyalah, memangnya ada, yang mau mengulang kepedihan yang sama? Nggak kan 😁😁.

Okay…keberhasilan untuk tahun 2017 ini, berhasil meraih gelar magister, jalan-jalan ke Lombok,

buseeettt jalannya sampe berapa lama tuh neng? Kagak naik pesawat??atau berenang aje yee??

yaelah naik pesawat lah, ok next, keliling-keliling Pangkep; walopun ga semuanya dikelilingin sih πŸ™ŠπŸ˜, ngajar di empat tempat sekaligus πŸ’ͺ; padahal masih ada jam kuliah juga plus tempat tinggal yang amat sangat jauh, selanjutnya berhasil merenovasi kamar tidur dan menyingkirkan semua buku-buku tahun 90an, sampe berkardus-kardus banyaknya πŸ’ͺπŸ’ͺ, dan terakhir yang paling penting, dapat aktif menulis kembali di blog setelah bertahun-tahun vakum 😊😊.

Itu aja?? Dikit amat mba brooo… hustttt yang lain, yang ga disebutin, biar jadi konsumsi pribadi yahπŸ˜‰ ga surprise dong, buat anak cucu nanti klo semuanya udah disebutin disini πŸ˜†πŸ˜†.

Yeahhh jangan tanyakan hal buruknya, fix. Semua hal yang kurang menyenangkan, dan kurang baik, ga usah dibahas, okay! Biarkan saja ia tertinggal disana bersama ceritanya sendiri. Dengan harapan tidak lagi berjumpa di tahun yang akan datang.

Etzz satu lagi, tahun ini merupakan tahun pemecah rekor untuk pertanyaan “kapan nikah?” πŸ˜’πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ buseett pertanyaan itu, hampir tiap saat bergelayutan di telinga boooo. But, bagi saya, pernikahan itu bukan pertandingan siapa yang cepat dan siapa yang telat guys, karena pernikahan itu sesuatu yang sangat saklar, eh salah maksudnya sakral, yes. So…santai sajalah, semua sudah menggenggam tadirnya masing-masing kok.

Untuk diakhir tahun yang cuacanya super kalem, keep calm aja yah yang penting hidup tetap harus dijalankan pada porosnya πŸ‘πŸ˜‰

And “Welcome 2018”

Kali Ini Mendung, Namun Tak Ada Hujan

Aku masih berdiri, terdiam, dan masih menunggu ditepi jalan yang sama. Namun, hingga hari ke 99 ini, aku masih belum tahu, apa kau akan kembali atau mungkin telah mundur tanpa berpamitan denganku?

Dibawah langit yang sama, tanah yang pernah kira pijak bersama, aku hanya bisa tersenyum pada mentari. Berharap kau pun disana tengah melambai padanya, mengirimkan pesan rindumu pada angin sepoi yang kini menenangkanku dalam penantian tanpa arah ini.

Andai saja. Yah, andai saja kau masih disini, menggenggam erat tanganku, percayalah, bahkan dedaunan pun kan malu tuk berguguran. Kau tahu mengapa?? Seperti yang pernah kau kisahkan padaku dahulu, kehadiranmu disampingku Pasti kan membuat seluruh isi dunia ini iri melihatmu.

Engkau yang selalu mengajarkanku tetap berbisik manja pada gemuruh angin, dan bahkan memintaku ikut menari merdu bersama rerumputan hijau yang indah. kini harus ku terima, kenyataannya, engkaulah yang tengah ikut lutur dalam rerintik hujan yang Kala itu tak menghadirkan pelangi setelahnya.

Entah sekarang, apakah aku harus tetap disini, sendirian, menanti, berharap, lalu kecewa, hingga menumpahkan air mata, dan mengusapnya kembali??

Mungkin takdir telah menguji kita. Ah tidak, cinta kita. Ku rasa bukan, tapi…..“aku”. Yah, mungkin takdir tengah asiknya menguji kesetiaanku padamu, menghitung tetesan air mataku, dan tertawa picik melihat kegundahanku tanpamu.

Namun…aku takkan semudah itu kan menyerah padanya. entah aku kan sekuat karang atau tidak. Yang ku tahu, hanya tetap menjaga cinta yang pernah kujanjikan padamu. Meski kini mendung yang tak hujan, namun percayalah. Aku kan tetap menghadirkan pelangi yang selalu kita puja bersama. Karena engkau, bukanlah mendung yang menghadirkan luka. Namun engkaulah mendung yang tetap kunantikan kan membawa damai pada terpaan angin dilangit merah.

Hari Ibu Tanpa Ibu

Beberapa hari ini hujan terus-menerus tanpa henti. Banjir terjadi dimana-mana. Syukurlah Tuhan masih melindungiku dari banjir.

Tak ada mentari, beberapa hari belakangan ini. Pun dengan langit merah yang selalu kupandangi. Kicauan burung pada tali jemuran bahkan telah hilang bagai ditelan bumi. Yang tersisa, hanyalah genangan.

Tidak, jangan takut genangan kawan, Kali ini tak ada kenangan disana. Yang ada hanya dedaunan beserta ranting-ranting kering yang hanyut terbawa derasnya aliran air.

Hujan, tak pernah jauh dari padamnya listrik. Gelap. Tapi tak segelap tempatmu kini. Sunyi. Pun tak sesunyi dimana kau berada sekarang. Yah…aku merindukanmu.

Aku ingin memelukmu, namun tak dapat kuraih. Aku ingin menciummu, namun tak pernah dapat kusentuh. Aku ingin kau disampingku, namun semua itu hanyalah khayalku.

Sekarang kau dimana? Bagaimana kabarmu? Apakah disana semuanya baik padamu? Apakah Sekarang kau telah benar-benar damai?

Aku sangat merindukanmu…hingga air mataku pun tak kuasa ku bendungnya…

Mama…
Aku ingat, saat terakhir ku sampaikan doa-doa ku untukmu di hari 22 Desember terakhirmu. Kau terbaring lemah. Terlihat begitu lelahnya. Saat itu, kupandangi wajahmu lekat-lekat. Berbeda dari biasanya. Kau tampak terlihat bercahaya. Selalu begitu. Namun kau tetap tersenyum.

“Ma, selamat hari Ibu, semoga mama cepat sembuh dan diberi umur yang panjang. Semoga sehat kembali, supaya kita bisa pergi jalan-jalan lagi”

Kuraih tanganmu yang mulai keriput, kurasakan hangatnya sentuhan kasih seorang Ibu yang cintanya begitu tulus. Ku jabat erat tanganmu. Kemudian berganti ku cium pipimu saat kau masih terbaring lemahnya. Air mataku jatuh. Namun ku sembunyikan. Tak ingin kau melihatnya dan membuatmu pilu. Ku belai rambutmu yang mulai memutih dan mulai bercerita hal konyol agar kau dapat tersenyum, sejenak melupakan sakitmu.

Suaramu lirih, terdengar olehku. Kau menyambut doa yang kupanjatkan untukmu, “Iya nak, aamiin”.

Dalam sujudku, ku perpanjang doa-doaku untukmu, kuperbanyak tasbihku. Agar Tuhan memberimu kesembuhan. Aku merasa pilu, sedih, hancur, melihat tubuh kekarmu, kini terbaring lemah. Sesekali kau memintaku membacakan ayat-ayat Nya. Yah, ini akan membuatmu tenang. Setidaknya sedikit dapat menghilangkan sakit yang kau derita.

22 Desember kala itu, tak ada hadiah yang mampu kuberikan padamu. Meninggalkanmu selangkah pun tak dapat kulakukan, terlebih tuk memcari hadiah untukmu. Yang ku tahu, aku hanya ingin selalu disampingmu, memenuhi segala yang kau butuhkan.

Wajahmu cantik, sangat cantik dengan tahi lalat di pipimu. Kau ingat pernah bercerita tentang 11 & 22 padaku?? Engkau mengatakan sangat senang dengan angka itu, mengapa? Alasanmu sederhana, angkanya kembar. Hingga pada akhirnya, engkau memilih 22 tuk pergi, dan benar-benar pergi dariku.

Sekarang, setelah 2 Tahun 11 bulan kau meninggalkanku, tak ada yang baik padaku. Tidak perasaanku, pun pikiranku. Aku merindukanmu, disetiap hembusan nafasku, hanya ada namamu.

22 Desember kali ini, hanya doa yang dapat ku kirimkan padamu, bersama harap agar kau selalu baik, disana. Tersenyumlah pada setiap ayat yang tersampaikan padamu. Karena disini, ku selalu merindukan belaian, dari tangan lembutmu, Ma.

03 03 1964. 22 01 2015. Miss you so much πŸ˜–πŸ˜­